Bunga Majemuk: Cara Kerja, Rumus, dan Contoh
Bunga majemuk (compound interest) adalah bunga yang dihitung tidak hanya dari pokok awal, tetapi juga dari akumulasi bunga periode sebelumnya — sehingga 'bunga berbunga' dan pertumbuhan dana menjadi eksponensial seiring waktu.
2 min read · Updated June 2026
Rumus bunga majemuk: FV = PV × (1 + r)^n, di mana FV adalah nilai akhir, PV nilai pokok awal, r tingkat imbal hasil per periode, dan n jumlah periode. Contoh: Rp 10 juta dengan imbal hasil 8% per tahun selama 10 tahun menjadi Rp 10 juta × (1,08)^10 ≈ Rp 21,6 juta — lebih dari dua kali lipat tanpa menambah setoran.
Perbedaan dengan bunga sederhana: bunga sederhana hanya menghitung bunga dari pokok (Rp 10 juta × 8% × 10 tahun = Rp 8 juta bunga, total Rp 18 juta), sedangkan bunga majemuk pada contoh di atas menghasilkan sekitar Rp 11,6 juta bunga. Selisihnya makin besar seiring waktu — inilah alasan memulai investasi lebih awal jauh lebih berdampak daripada menambah nominal di kemudian hari.
Faktor yang memperkuat efek bunga majemuk: (1) waktu — variabel terpenting; (2) frekuensi penggabungan (compounding harian/bulanan lebih cepat dari tahunan); (3) konsistensi setoran rutin (lihat SIP/auto-invest). 'Rule of 72' memberi perkiraan cepat: 72 ÷ tingkat imbal hasil = perkiraan tahun untuk dana berlipat ganda — pada 8%, dana berlipat dalam ~9 tahun. Inflasi bekerja sebaliknya, menggerus daya beli secara majemuk, sehingga imbal hasil perlu mengalahkan inflasi.
Musuh terbesar bunga majemuk adalah menunda dan menarik dana terlalu dini. Menyetor rutin sejak usia 25 vs 35 (dengan imbal hasil sama) bisa menghasilkan selisih ratusan juta saat pensiun — sebagian besar berasal dari tahun-tahun pertama yang punya waktu tumbuh paling lama.

