Inflasi BPS: IHK Indonesia
Inflasi BPS adalah persentase kenaikan harga rata-rata barang dan jasa yang dikonsumsi rumah tangga Indonesia, diukur lewat Indeks Harga Konsumen (IHK) yang dirilis bulanan oleh Badan Pusat Statistik.
IHK BPS dirilis setiap awal bulan untuk data bulan sebelumnya. Sasaran inflasi Bank Indonesia adalah 2,5% ± 1% (yaitu 1,5-3,5%), dipertahankan dalam jangka menengah-panjang. Inflasi Indonesia historis: 2019: 2,7%; 2020: 1,7% (pandemi); 2021: 1,9%; 2022: 5,5% (tertinggi sejak 2014, didorong komoditas global); 2023: 2,6%; 2024: 1,6-2%; 2025: 2-3% (data BPS bulanan).
Komponen IHK BPS: 11 kelompok pengeluaran termasuk makanan, perumahan, transportasi, kesehatan, pendidikan, pakaian, dll. Beratnya berdasarkan pola pengeluaran rumah tangga rata-rata Indonesia. Inflasi inti (core inflation) — yang tidak termasuk komponen volatil seperti makanan dan energi — adalah indikator yang lebih dipantau Bank Indonesia untuk kebijakan moneter.
Dampak inflasi pada keuangan pribadi: Tabungan Rp 100 juta dengan bunga 1% per tahun, sedangkan inflasi 3%, mengalami penurunan daya beli riil sebesar 2% per tahun. Setelah 10 tahun: nilai nominal Rp 110,5 juta, tapi daya beli riil setara dengan ~Rp 82 juta hari ini. Investasi yang return-nya di atas inflasi (inflation-beating) membantu mempertahankan nilai riil kekayaan.
Data IHK BPS dirilis di bps.go.id setiap awal bulan. Untuk membandingkan dengan negara lain: inflasi Indonesia secara historis lebih rendah dari Argentina (50-200%) dan Türkiye (40-80%), tapi lebih tinggi dari Jepang (-1 hingga 1%) atau Singapura (0-3%).

